“Silahkan nak perkenalkan namamu.” Ucap si laki-laki tua itu.
“Nama gue Sandra.” Semua sudut ruang kelas melihatku tanpa berkedip, penampilan yang sangat berantakan
mungkin itulah yang ada dibenak mereka. “Cukup? Oke Sandra silahkan duduk
disebelah sana.” Laki-laki tua itu menunjukan dimana tempat yang seharusnya aku
duduki. Setiap langkah kaki ku diiringi dengan beberapa mata yang ada diruangan
ini. Risih. “Hei, nama kamu siapa? Pindahan dari mana ya?” aku mengacuhkan setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
Melihatku tidak merespon, menggelengkan kepala dan memainkan bola matanya. “kenalin, namaku Revano Geonino, panggil
saja aku vano. Nama kamu san..” “Stop! Bisa gak
sih lo gak ganggu gue? Ini hari
pertama gue sekolah. Dan satu lagi, gue gak nanya nama lo, ngerti?” aku memotong pertanyaan laki-laki itu, lalu membuang
muka. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkahku. wajahnya sangat tampan, mata coklatnya yang sendu menunjukkan kalau
dia seseorang yang murah hati, tinggi badannya kira-kira 178cm, tubuh agak
sedikit atletis karena dia mengikuti kegiatan basket disekolah. Dia juga
termasuk laki-laki yang digemari para kaum wanita disekolah ini, tidak heran
jika banyak yang memberi surat cinta dan kado-kado kecil yang sudah berada
dilaci meja nya.
Pada saat bel istirahat berbunyi aku
bersembunyi dihalaman belakang sekolah. Aku melewati beberapa koridor kelas
untuk menuju halaman belakang, semua orang memandangku aneh, yaaa aku sudah
terbiasa dengan raut muka mereka. Aneh,
gila, dengan semua perubahan ini aku merasakannya, pikirku dalam hati.
Memang benar, memakai anting-anting berlebih, rambut berwarna, sepatu tidak
beraturan, dan make up yang tidak sewajarnya. “Sandra!” seseorang memanggilku
tapi aku tidak menyadarinya. “SANDRA!” aku tersontak, tersadar yang memanggilku
dari tadi adalah pak Toyo Wakil Kesiswaan disekolah ini. “Ya pak?” jawabku
“Saya tidak mau melihat penampilan kamu seperti ini, lepas dan hapus semua make
up dan aksesoris yang kamu pakai!” ya..ya..ya.. aku mengikuti perintah pak
Toyo. Dan tentu saja penampilanku masih berantakan.
Sudah satu minggu aku berada disekolah ini, tetap sama. Aku
tidak pernah memakai pakaian sesuai aturan sekolah, melanggar dan melanggar
itulah hobi ku. Aku tidak peduli tentang semua yang mereka katakan, mereka
hanya melihat, mereka tidak bisa merasakan. Aku sudah sangat kacau. Aku
menghidupkan sebatang rokok, tiba-tiba tanganku tertahan “Sandra, ini
disekolah. Kamu gila ya? Kamu bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah ini!” Vano
masih menahan tanganku. Aaaarrhhh dia
lagi dia lagi, shit! Geram ku dalam hati. “Peduli apa sih lo tentang hidup gue?” “Ehm! Kalian berdua
ikut ke ruangan saya sekarang!” seseorang mengagetkan kami. “Tuh kan kamu sih” “Apaan sih? Jangan sok peduli!” Vano tetap melihatkan
senyumnya, sembari jalan menuju ruang pak Toyo.
“Sandra,
apa yang kamu lakukan tadi itu sangat tidak sepantasnya! Kamu baru satu minggu
berada disekolah ini, kamu sudah membuat banyak masalah!” “Saya dikeluarin aja pak dari sekolah ini, gak
apa-apa kok.” Jawabku santai, tiba-tiba Vano menginjak kakiku, memberi
isyarat atas perkataanku tadi. “Apasih lo?” dengan nada berbisik-bisik dan
membalas menginjak kaki Vano. “Tidak semudah itu Sandra, kalau begitu saya
kasih kalian hukuman, membersihkan halaman belakang sekolah. Dan kamu Sandra,
saya tidak mau melihat nilai-nilai kamu dibawah rata-rata. Kamu harus belajar
bersama Vano.” “Hah? Pak, masa sama dia sih pak? Gak mau gak mau!” Vano
tersenyum mendengar kabar gembira baginya, dan kabar menyedihkan bagiku untuk
selalu bersama laki-laki rese kayak
dia. “Sandra, Vano itu juara umum disekolah kita. Saya rasa kamu harus belajar
bersama Vano.” Aku hanya menuruti perkataan dari pak Toyo. Pulang sekolah aku
dan Vano mulai membersihkan halaman belakang sekolah. “Sumpah kotor banget, ini sekolah apa gudang sampah
sih?” “Udah.. nikmatin aja” jawab Vano dengan santainya. Dia
membersihkan semua halaman belakang ini, sedangkan aku bersantai-santai
mendengarkan musik dengan sapu yang menggantung di tangan kiri ku. “Sandra
gantian dong, capek nihh” rengek Vano, tidak membuatku
terpengaruh. Melihatku tetap tidak merespon dia berjalan menarik tanganku untuk
membantunya membersihkan halaman ini. Baru beberapa menit membersihkan tempat
ini aku sudah kelelahan “Van, capek. Udah
ya?” “Yaudah istirahat aja dulu”.
Aku dan Vano duduk dikursi yang ada dihalaman ini, Vano
memberikan ku sebotol air mineral, aku meminumnya hingga habis tak tersisa. “Wah, haus nih ceritanya?” Vano melihatkan wajah menggodanya aku membalasnya
dengan menggelitik pinggang, kami mulai bercanda
tawa. Jelas aku sudah menerima orang seperti Vano, hanya dia satu-satunya teman
yang kupunya. “Van, gue capek. Gue capek dengan keadaan ini, keluarga gue berantakan..” aku menceritakan
kejadian yang ku alami sehingga membuatku menjadi seperti sekarang. “Dulu, gue pikir gue akan selalu mendapat kebahagiaan. Mempunyai bokap yang selalu ada, nyokap yang perhatian. Tapi semuanya
berubah, nyokap gue jadi jarang
pulang karena pekerjaannya, dan muncul lah konflik-konflik diantara mereka. Dan lo tau sendiri lah Van, berakhirnya
kemana.. bokap gue memilih pergi
keluar negri untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan ninggalin gue. Semua temen-temen gue menjauh, gak ada satupun orang yang
ada disamping gue Van..” sesaat aku
terisak dan melanjutkan ketika Vano menenangkan ku mengusap-usap rambutku. “Gue frustasi, gue benci sama nyokap gue,
dan gue gak pernah peduli sama semua
perhatian-perhatian yang dia kasih ke gue, karena emang gak sebanding dengan kebahagiaan gue dulu.” Isak tangis ku tidak berhenti, Vano coba menenangkan
hatiku.
Aku
memulai pelajaran tambahan yang diberikan Vano di perpustakaan, dia dengan
sabar mengajariku. Hati ku tergerak melihat ketulusannya, kepeduliannya
terhadapku. Sesekali kami bercanda tawa, dan ditegur oleh petugas yang ada
diperpustakaan sehingga kami keluar dan mencari ruangan untuk belajar kembali. Cuma kamu satu-satunya teman yang gue punya
ingin sekali aku mengatakan itu kepadanya, tetapi aku tetap menjaga gengsi. Aku menghentikan kegiatanku
ketika mendapati handphone ku
berbunyi, kulihat dilayar handphoneku
sudah ada nama ‘bi sumi’ aku ke heranan, tidak biasanya bi sumi menelfonku.
Segera kuangkat. “Non, nyonya masuk rumah sakit.” Tanganku gemetar ketika
menerima telepon dari asisten rumah tangga dirumah ku. “Nyokap gue masuk rumah sakit Van.” Aku panik, dan segera
membereskan buku-buku pelajaran tambahanku bersama Vano. “Biar aku yang temenin kamu ke rumah sakit ya.” Aku dan
Vano bergegas menuju rumah sakit. Aku mencari ruangan yang telah diberi tahu
oleh asisten rumah tangga ku. Sesampai diruangan sekujur tubuhku kaku, melihat
mama terbaring diatas ranjang tidak berdaya. “Mama.. mama maafin Sandra yang gak
bisa jagain mama, mama jangan tinggalin
Sandra.” Aku menangis sekeras kerasnya. “San, mama kamu gak meninggal, dia cuma
belum sadar.” Vano menenangkan ku. Setelah beberapa menit mama terbangun,
“Sandra?” “Mama? Mama udah sadar? Mama jangan tinggalin Sandra ma, Sandra minta maaf atas semua perlakuan Sandra
selama ini ma..” aku terisak, air mata ku tidak bisa tertahan. “Sayang kamu gak salah, mama yang salah. Mama gak bisa jadi mama yang baik buat kamu.”
“Sandra sayang mama..” Aku hanyut dalam pelukan bersama mama, kami menangis
bersama.
“Aku lega banget
ngeliatin kamu sama mama kamu bisa baik lagi.” Vano tersenyum kepadaku. “Iya
van..” keadaan sunyi sejenak, “aw..” Vano memegangi kepalanya, meringis kesakitan. “kamu kenapa
Van?” kataku panik. “Gak apa-apa kok,
mungkin migrain biasa. Hm, San aku
tinggal pulang gak apa-apa kan?” “Iya
van, kamu pulang aja terus istirahat.” Vano berjalan meninggalkanku dikoridor,
dan sekarang aku hanya melihat punggungnya. Tiba-tiba aku merasa takut, takut
sesuatu terjadi yang menyebabkan aku dan dia terpisah.
Aku terbangun ketika ada seseorang yang
menelponku, kulihat dilayar handphone, Vano
memanggil segera ku angkat. “Sandra, kamu bisa kerumah sekarang?” mama vano? Ada apa ini? pikirku. “Iya
tante bisa, ada apa ya?” *tut tut tut..* tiba-tiba terputus, aku bergegas
menuju rumah Vano dengan perasaan tidak enak dan pikiran yang aneh-aneh. Sesampai
aku dirumah Vano, mamanya menceritakan semua yang terjadi kepada anaknya.
“Sandra, tante tahu kamu adalah teman baik Vano. Makanya tante menceritakan ini
sama kamu, Vano sakit San..” Tante Lidya, mamanya Vano menghentikan
pembicaraannya dan pecah lah semua isak tangis diantara kami. “Sakit? Sakit apa
tante? Tante tolong kasih tahu Sandra!” tangis ku masih tertahan, dan suaraku
bergetar hebat. “Vano sakit kanker otak, stadium akhir nak.. sekarang dia masuk
ICU dirumah sakit Pelabuhan”
Aku
pergi mencari alamat rumah sakit yang diberikan tante Lidya, tubuhku gemetar,
mendengar kabar dari mamanya Vano. Van,
kenapa kamu gak pernah cerita? Kamu gak boleh ninggalin aku van.. air
mataku membendung dan tak sanggup aku menahannya. Sesampainya aku dirumah sakit,
aku sudah menemukan ruangan Vano, tapi aku tidak sanggup untuk melihatnya
terbaring lemah diatas kasur. Kuberanikan diri membuka pintu ruangan ini, “Hai
san..” disaat seperti ini dia masih bisa melihat kan senyumnya. “Van, aku sudah
tahu semua! Kenapa kamu gak pernah
cerita sih Van?” “Aku cuma takut kamu
sedih San” dengan terbata-bata dan menahan sakit dikepalanya dia masih bisa
tersenyum, tiba-tiba kondisi Vano down. “San,
aku boleh minta sesuatu gak?” “Apa?”
“Tolong peluk aku San” aku memeluknya erat-erat, lalu Vano membisikan sesuatu
“Jaga diri kamu ya San, a-ku sa-yang ka-mu” alat detak jantung itu membentuk
garis lurus dan Revano Geonino telah dipanggil yang Maha Kuasa. Aku menangis
sekencang-kencangnya, menangis dipelukan vano. Mungkin kamu gak bakal ada lagi disini, tapi aku yakin kamu bakal
jagain aku dimanapun. Terima kasih kamu sudah mengajari aku banyak hal, aku
akan selalu ingat. Ruangan ini penuh dengan isak tangis, semua orang
merasakan kehilangan REVANO GEONINO.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar