Jumat, 14 November 2014

HURT

“Silahkan nak perkenalkan namamu.” Ucap si laki-laki tua itu. “Nama gue Sandra.” Semua sudut ruang kelas melihatku tanpa berkedip, penampilan yang sangat berantakan mungkin itulah yang ada dibenak mereka. “Cukup? Oke Sandra silahkan duduk disebelah sana.” Laki-laki tua itu menunjukan dimana tempat yang seharusnya aku duduki. Setiap langkah kaki ku diiringi dengan beberapa mata yang ada diruangan ini. Risih. “Hei, nama kamu siapa? Pindahan dari mana ya?” aku mengacuhkan setiap pertanyaan yang dilontarkannya. Melihatku tidak merespon, menggelengkan kepala dan memainkan bola matanya. “kenalin, namaku Revano Geonino, panggil saja aku vano. Nama kamu san..” “Stop! Bisa gak sih lo gak ganggu gue? Ini hari pertama gue sekolah. Dan satu lagi, gue gak nanya nama lo, ngerti?” aku memotong pertanyaan laki-laki itu, lalu membuang muka. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkahku. wajahnya sangat tampan,  mata coklatnya yang sendu menunjukkan kalau dia seseorang yang murah hati, tinggi badannya kira-kira 178cm, tubuh agak sedikit atletis karena dia mengikuti kegiatan basket disekolah. Dia juga termasuk laki-laki yang digemari para kaum wanita disekolah ini, tidak heran jika banyak yang memberi surat cinta dan kado-kado kecil yang sudah berada dilaci meja nya.
Pada saat bel istirahat berbunyi aku bersembunyi dihalaman belakang sekolah. Aku melewati beberapa koridor kelas untuk menuju halaman belakang, semua orang memandangku aneh, yaaa aku sudah terbiasa dengan raut muka mereka. Aneh, gila, dengan semua perubahan ini aku merasakannya, pikirku dalam hati. Memang benar, memakai anting-anting berlebih, rambut berwarna, sepatu tidak beraturan, dan make up yang tidak sewajarnya. “Sandra!” seseorang memanggilku tapi aku tidak menyadarinya. “SANDRA!” aku tersontak, tersadar yang memanggilku dari tadi adalah pak Toyo Wakil Kesiswaan disekolah ini. “Ya pak?” jawabku “Saya tidak mau melihat penampilan kamu seperti ini, lepas dan hapus semua make up dan aksesoris yang kamu pakai!” ya..ya..ya.. aku mengikuti perintah pak Toyo. Dan tentu saja penampilanku masih berantakan.
Sudah satu minggu aku berada disekolah ini, tetap sama. Aku tidak pernah memakai pakaian sesuai aturan sekolah, melanggar dan melanggar itulah hobi ku. Aku tidak peduli tentang semua yang mereka katakan, mereka hanya melihat, mereka tidak bisa merasakan. Aku sudah sangat kacau. Aku menghidupkan sebatang rokok, tiba-tiba tanganku tertahan “Sandra, ini disekolah. Kamu gila ya? Kamu bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah ini!” Vano masih menahan tanganku. Aaaarrhhh dia lagi dia lagi, shit! Geram ku dalam hati. “Peduli apa sih lo tentang hidup gue?” “Ehm! Kalian berdua ikut ke ruangan saya sekarang!” seseorang mengagetkan kami. “Tuh kan kamu sih” “Apaan sih? Jangan sok peduli!” Vano tetap melihatkan senyumnya, sembari jalan menuju ruang pak Toyo.
“Sandra, apa yang kamu lakukan tadi itu sangat tidak sepantasnya! Kamu baru satu minggu berada disekolah ini, kamu sudah membuat banyak masalah!”  “Saya dikeluarin aja pak dari sekolah ini, gak apa-apa kok.” Jawabku santai, tiba-tiba Vano menginjak kakiku, memberi isyarat atas perkataanku tadi. “Apasih lo?” dengan nada berbisik-bisik dan membalas menginjak kaki Vano. “Tidak semudah itu Sandra, kalau begitu saya kasih kalian hukuman, membersihkan halaman belakang sekolah. Dan kamu Sandra, saya tidak mau melihat nilai-nilai kamu dibawah rata-rata. Kamu harus belajar bersama Vano.” “Hah? Pak, masa sama dia sih pak? Gak mau gak mau!” Vano tersenyum mendengar kabar gembira baginya, dan kabar menyedihkan bagiku untuk selalu bersama laki-laki rese kayak dia. “Sandra, Vano itu juara umum disekolah kita. Saya rasa kamu harus belajar bersama Vano.” Aku hanya menuruti perkataan dari pak Toyo. Pulang sekolah aku dan Vano mulai membersihkan halaman belakang sekolah. “Sumpah kotor banget, ini sekolah apa gudang sampah sih?” “Udah.. nikmatin aja” jawab Vano dengan santainya. Dia membersihkan semua halaman belakang ini, sedangkan aku bersantai-santai mendengarkan musik dengan sapu yang menggantung di tangan kiri ku. “Sandra gantian dong, capek nihh” rengek Vano, tidak membuatku terpengaruh. Melihatku tetap tidak merespon dia berjalan menarik tanganku untuk membantunya membersihkan halaman ini. Baru beberapa menit membersihkan tempat ini aku sudah kelelahan “Van, capek. Udah ya?” “Yaudah istirahat aja dulu”.
Aku dan Vano duduk dikursi yang ada dihalaman ini, Vano memberikan ku sebotol air mineral, aku meminumnya hingga habis tak tersisa. “Wah, haus nih ceritanya?” Vano melihatkan wajah menggodanya aku membalasnya dengan menggelitik pinggang, kami mulai  bercanda tawa. Jelas aku sudah menerima orang seperti Vano, hanya dia satu-satunya teman yang kupunya. “Van, gue capek. Gue capek dengan keadaan ini, keluarga gue berantakan..” aku menceritakan kejadian yang ku alami sehingga membuatku menjadi seperti sekarang. “Dulu, gue pikir gue akan selalu mendapat kebahagiaan. Mempunyai bokap yang selalu ada, nyokap yang perhatian. Tapi semuanya berubah, nyokap gue jadi jarang pulang karena pekerjaannya, dan muncul lah konflik-konflik diantara mereka. Dan lo tau sendiri lah Van, berakhirnya kemana.. bokap gue memilih pergi keluar negri untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan ninggalin gue. Semua temen-temen gue menjauh, gak ada satupun orang yang ada disamping gue Van..” sesaat aku terisak dan melanjutkan ketika Vano menenangkan ku mengusap-usap rambutku. “Gue frustasi, gue benci sama nyokap gue, dan gue gak pernah peduli sama semua perhatian-perhatian yang dia kasih ke gue, karena emang gak sebanding dengan kebahagiaan gue dulu.” Isak tangis ku tidak berhenti, Vano coba menenangkan hatiku.
              Aku memulai pelajaran tambahan yang diberikan Vano di perpustakaan, dia dengan sabar mengajariku. Hati ku tergerak melihat ketulusannya, kepeduliannya terhadapku. Sesekali kami bercanda tawa, dan ditegur oleh petugas yang ada diperpustakaan sehingga kami keluar dan mencari ruangan untuk belajar kembali. Cuma kamu satu-satunya teman yang gue punya ingin sekali aku mengatakan itu kepadanya, tetapi aku tetap menjaga gengsi. Aku menghentikan kegiatanku ketika mendapati handphone ku berbunyi, kulihat dilayar handphoneku sudah ada nama ‘bi sumi’ aku ke heranan, tidak biasanya bi sumi menelfonku. Segera kuangkat. “Non, nyonya masuk rumah sakit.” Tanganku gemetar ketika menerima telepon dari asisten rumah tangga dirumah ku. “Nyokap gue masuk rumah sakit Van.” Aku panik, dan segera membereskan buku-buku pelajaran tambahanku bersama Vano. “Biar aku yang temenin kamu ke rumah sakit ya.” Aku dan Vano bergegas menuju rumah sakit. Aku mencari ruangan yang telah diberi tahu oleh asisten rumah tangga ku. Sesampai diruangan sekujur tubuhku kaku, melihat mama terbaring diatas ranjang tidak berdaya. “Mama.. mama maafin Sandra yang gak bisa jagain mama, mama jangan tinggalin Sandra.” Aku menangis sekeras kerasnya. “San, mama kamu gak meninggal, dia cuma belum sadar.” Vano menenangkan ku. Setelah beberapa menit mama terbangun, “Sandra?” “Mama? Mama udah sadar? Mama jangan tinggalin Sandra ma, Sandra minta maaf atas semua perlakuan Sandra selama ini ma..” aku terisak, air mata ku tidak bisa tertahan. “Sayang kamu gak salah, mama yang salah. Mama gak bisa jadi mama yang baik buat kamu.” “Sandra sayang mama..” Aku hanyut dalam pelukan bersama mama, kami menangis bersama.
 “Aku lega banget ngeliatin kamu sama mama kamu bisa baik lagi.” Vano tersenyum kepadaku. “Iya van..” keadaan sunyi sejenak, “aw..” Vano memegangi  kepalanya, meringis kesakitan. “kamu kenapa Van?” kataku panik. “Gak apa-apa kok, mungkin migrain biasa. Hm, San aku tinggal pulang gak apa-apa kan?” “Iya van, kamu pulang aja terus istirahat.” Vano berjalan meninggalkanku dikoridor, dan sekarang aku hanya melihat punggungnya. Tiba-tiba aku merasa takut, takut sesuatu terjadi yang menyebabkan aku dan dia terpisah.
     Aku terbangun ketika ada seseorang yang menelponku, kulihat dilayar handphone, Vano memanggil segera ku angkat. “Sandra, kamu bisa kerumah sekarang?” mama vano? Ada apa ini? pikirku. “Iya tante bisa, ada apa ya?” *tut tut tut..* tiba-tiba terputus, aku bergegas menuju rumah Vano dengan perasaan tidak enak dan pikiran yang aneh-aneh. Sesampai aku dirumah Vano, mamanya menceritakan semua yang terjadi kepada anaknya. “Sandra, tante tahu kamu adalah teman baik Vano. Makanya tante menceritakan ini sama kamu, Vano sakit San..” Tante Lidya, mamanya Vano menghentikan pembicaraannya dan pecah lah semua isak tangis diantara kami. “Sakit? Sakit apa tante? Tante tolong kasih tahu Sandra!” tangis ku masih tertahan, dan suaraku bergetar hebat. “Vano sakit kanker otak, stadium akhir nak.. sekarang dia masuk ICU dirumah sakit Pelabuhan”

Aku pergi mencari alamat rumah sakit yang diberikan tante Lidya, tubuhku gemetar, mendengar kabar dari mamanya Vano. Van, kenapa kamu gak pernah cerita? Kamu gak boleh ninggalin aku van.. air mataku membendung dan tak sanggup aku menahannya. Sesampainya aku dirumah sakit, aku sudah menemukan ruangan Vano, tapi aku tidak sanggup untuk melihatnya terbaring lemah diatas kasur. Kuberanikan diri membuka pintu ruangan ini, “Hai san..” disaat seperti ini dia masih bisa melihat kan senyumnya. “Van, aku sudah tahu semua! Kenapa kamu gak pernah cerita sih Van?” “Aku cuma takut kamu sedih San” dengan terbata-bata dan menahan sakit dikepalanya dia masih bisa tersenyum, tiba-tiba kondisi Vano down. “San, aku boleh minta sesuatu gak?” “Apa?” “Tolong peluk aku San” aku memeluknya erat-erat, lalu Vano membisikan sesuatu “Jaga diri kamu ya San, a-ku sa-yang ka-mu” alat detak jantung itu membentuk garis lurus dan Revano Geonino telah dipanggil yang Maha Kuasa. Aku menangis sekencang-kencangnya, menangis dipelukan vano. Mungkin kamu gak bakal ada lagi disini, tapi aku yakin kamu bakal jagain aku dimanapun. Terima kasih kamu sudah mengajari aku banyak hal, aku akan selalu ingat. Ruangan ini penuh dengan isak tangis, semua orang merasakan kehilangan REVANO GEONINO.