Jumat, 14 November 2014

HURT

“Silahkan nak perkenalkan namamu.” Ucap si laki-laki tua itu. “Nama gue Sandra.” Semua sudut ruang kelas melihatku tanpa berkedip, penampilan yang sangat berantakan mungkin itulah yang ada dibenak mereka. “Cukup? Oke Sandra silahkan duduk disebelah sana.” Laki-laki tua itu menunjukan dimana tempat yang seharusnya aku duduki. Setiap langkah kaki ku diiringi dengan beberapa mata yang ada diruangan ini. Risih. “Hei, nama kamu siapa? Pindahan dari mana ya?” aku mengacuhkan setiap pertanyaan yang dilontarkannya. Melihatku tidak merespon, menggelengkan kepala dan memainkan bola matanya. “kenalin, namaku Revano Geonino, panggil saja aku vano. Nama kamu san..” “Stop! Bisa gak sih lo gak ganggu gue? Ini hari pertama gue sekolah. Dan satu lagi, gue gak nanya nama lo, ngerti?” aku memotong pertanyaan laki-laki itu, lalu membuang muka. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkahku. wajahnya sangat tampan,  mata coklatnya yang sendu menunjukkan kalau dia seseorang yang murah hati, tinggi badannya kira-kira 178cm, tubuh agak sedikit atletis karena dia mengikuti kegiatan basket disekolah. Dia juga termasuk laki-laki yang digemari para kaum wanita disekolah ini, tidak heran jika banyak yang memberi surat cinta dan kado-kado kecil yang sudah berada dilaci meja nya.
Pada saat bel istirahat berbunyi aku bersembunyi dihalaman belakang sekolah. Aku melewati beberapa koridor kelas untuk menuju halaman belakang, semua orang memandangku aneh, yaaa aku sudah terbiasa dengan raut muka mereka. Aneh, gila, dengan semua perubahan ini aku merasakannya, pikirku dalam hati. Memang benar, memakai anting-anting berlebih, rambut berwarna, sepatu tidak beraturan, dan make up yang tidak sewajarnya. “Sandra!” seseorang memanggilku tapi aku tidak menyadarinya. “SANDRA!” aku tersontak, tersadar yang memanggilku dari tadi adalah pak Toyo Wakil Kesiswaan disekolah ini. “Ya pak?” jawabku “Saya tidak mau melihat penampilan kamu seperti ini, lepas dan hapus semua make up dan aksesoris yang kamu pakai!” ya..ya..ya.. aku mengikuti perintah pak Toyo. Dan tentu saja penampilanku masih berantakan.
Sudah satu minggu aku berada disekolah ini, tetap sama. Aku tidak pernah memakai pakaian sesuai aturan sekolah, melanggar dan melanggar itulah hobi ku. Aku tidak peduli tentang semua yang mereka katakan, mereka hanya melihat, mereka tidak bisa merasakan. Aku sudah sangat kacau. Aku menghidupkan sebatang rokok, tiba-tiba tanganku tertahan “Sandra, ini disekolah. Kamu gila ya? Kamu bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah ini!” Vano masih menahan tanganku. Aaaarrhhh dia lagi dia lagi, shit! Geram ku dalam hati. “Peduli apa sih lo tentang hidup gue?” “Ehm! Kalian berdua ikut ke ruangan saya sekarang!” seseorang mengagetkan kami. “Tuh kan kamu sih” “Apaan sih? Jangan sok peduli!” Vano tetap melihatkan senyumnya, sembari jalan menuju ruang pak Toyo.
“Sandra, apa yang kamu lakukan tadi itu sangat tidak sepantasnya! Kamu baru satu minggu berada disekolah ini, kamu sudah membuat banyak masalah!”  “Saya dikeluarin aja pak dari sekolah ini, gak apa-apa kok.” Jawabku santai, tiba-tiba Vano menginjak kakiku, memberi isyarat atas perkataanku tadi. “Apasih lo?” dengan nada berbisik-bisik dan membalas menginjak kaki Vano. “Tidak semudah itu Sandra, kalau begitu saya kasih kalian hukuman, membersihkan halaman belakang sekolah. Dan kamu Sandra, saya tidak mau melihat nilai-nilai kamu dibawah rata-rata. Kamu harus belajar bersama Vano.” “Hah? Pak, masa sama dia sih pak? Gak mau gak mau!” Vano tersenyum mendengar kabar gembira baginya, dan kabar menyedihkan bagiku untuk selalu bersama laki-laki rese kayak dia. “Sandra, Vano itu juara umum disekolah kita. Saya rasa kamu harus belajar bersama Vano.” Aku hanya menuruti perkataan dari pak Toyo. Pulang sekolah aku dan Vano mulai membersihkan halaman belakang sekolah. “Sumpah kotor banget, ini sekolah apa gudang sampah sih?” “Udah.. nikmatin aja” jawab Vano dengan santainya. Dia membersihkan semua halaman belakang ini, sedangkan aku bersantai-santai mendengarkan musik dengan sapu yang menggantung di tangan kiri ku. “Sandra gantian dong, capek nihh” rengek Vano, tidak membuatku terpengaruh. Melihatku tetap tidak merespon dia berjalan menarik tanganku untuk membantunya membersihkan halaman ini. Baru beberapa menit membersihkan tempat ini aku sudah kelelahan “Van, capek. Udah ya?” “Yaudah istirahat aja dulu”.
Aku dan Vano duduk dikursi yang ada dihalaman ini, Vano memberikan ku sebotol air mineral, aku meminumnya hingga habis tak tersisa. “Wah, haus nih ceritanya?” Vano melihatkan wajah menggodanya aku membalasnya dengan menggelitik pinggang, kami mulai  bercanda tawa. Jelas aku sudah menerima orang seperti Vano, hanya dia satu-satunya teman yang kupunya. “Van, gue capek. Gue capek dengan keadaan ini, keluarga gue berantakan..” aku menceritakan kejadian yang ku alami sehingga membuatku menjadi seperti sekarang. “Dulu, gue pikir gue akan selalu mendapat kebahagiaan. Mempunyai bokap yang selalu ada, nyokap yang perhatian. Tapi semuanya berubah, nyokap gue jadi jarang pulang karena pekerjaannya, dan muncul lah konflik-konflik diantara mereka. Dan lo tau sendiri lah Van, berakhirnya kemana.. bokap gue memilih pergi keluar negri untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan ninggalin gue. Semua temen-temen gue menjauh, gak ada satupun orang yang ada disamping gue Van..” sesaat aku terisak dan melanjutkan ketika Vano menenangkan ku mengusap-usap rambutku. “Gue frustasi, gue benci sama nyokap gue, dan gue gak pernah peduli sama semua perhatian-perhatian yang dia kasih ke gue, karena emang gak sebanding dengan kebahagiaan gue dulu.” Isak tangis ku tidak berhenti, Vano coba menenangkan hatiku.
              Aku memulai pelajaran tambahan yang diberikan Vano di perpustakaan, dia dengan sabar mengajariku. Hati ku tergerak melihat ketulusannya, kepeduliannya terhadapku. Sesekali kami bercanda tawa, dan ditegur oleh petugas yang ada diperpustakaan sehingga kami keluar dan mencari ruangan untuk belajar kembali. Cuma kamu satu-satunya teman yang gue punya ingin sekali aku mengatakan itu kepadanya, tetapi aku tetap menjaga gengsi. Aku menghentikan kegiatanku ketika mendapati handphone ku berbunyi, kulihat dilayar handphoneku sudah ada nama ‘bi sumi’ aku ke heranan, tidak biasanya bi sumi menelfonku. Segera kuangkat. “Non, nyonya masuk rumah sakit.” Tanganku gemetar ketika menerima telepon dari asisten rumah tangga dirumah ku. “Nyokap gue masuk rumah sakit Van.” Aku panik, dan segera membereskan buku-buku pelajaran tambahanku bersama Vano. “Biar aku yang temenin kamu ke rumah sakit ya.” Aku dan Vano bergegas menuju rumah sakit. Aku mencari ruangan yang telah diberi tahu oleh asisten rumah tangga ku. Sesampai diruangan sekujur tubuhku kaku, melihat mama terbaring diatas ranjang tidak berdaya. “Mama.. mama maafin Sandra yang gak bisa jagain mama, mama jangan tinggalin Sandra.” Aku menangis sekeras kerasnya. “San, mama kamu gak meninggal, dia cuma belum sadar.” Vano menenangkan ku. Setelah beberapa menit mama terbangun, “Sandra?” “Mama? Mama udah sadar? Mama jangan tinggalin Sandra ma, Sandra minta maaf atas semua perlakuan Sandra selama ini ma..” aku terisak, air mata ku tidak bisa tertahan. “Sayang kamu gak salah, mama yang salah. Mama gak bisa jadi mama yang baik buat kamu.” “Sandra sayang mama..” Aku hanyut dalam pelukan bersama mama, kami menangis bersama.
 “Aku lega banget ngeliatin kamu sama mama kamu bisa baik lagi.” Vano tersenyum kepadaku. “Iya van..” keadaan sunyi sejenak, “aw..” Vano memegangi  kepalanya, meringis kesakitan. “kamu kenapa Van?” kataku panik. “Gak apa-apa kok, mungkin migrain biasa. Hm, San aku tinggal pulang gak apa-apa kan?” “Iya van, kamu pulang aja terus istirahat.” Vano berjalan meninggalkanku dikoridor, dan sekarang aku hanya melihat punggungnya. Tiba-tiba aku merasa takut, takut sesuatu terjadi yang menyebabkan aku dan dia terpisah.
     Aku terbangun ketika ada seseorang yang menelponku, kulihat dilayar handphone, Vano memanggil segera ku angkat. “Sandra, kamu bisa kerumah sekarang?” mama vano? Ada apa ini? pikirku. “Iya tante bisa, ada apa ya?” *tut tut tut..* tiba-tiba terputus, aku bergegas menuju rumah Vano dengan perasaan tidak enak dan pikiran yang aneh-aneh. Sesampai aku dirumah Vano, mamanya menceritakan semua yang terjadi kepada anaknya. “Sandra, tante tahu kamu adalah teman baik Vano. Makanya tante menceritakan ini sama kamu, Vano sakit San..” Tante Lidya, mamanya Vano menghentikan pembicaraannya dan pecah lah semua isak tangis diantara kami. “Sakit? Sakit apa tante? Tante tolong kasih tahu Sandra!” tangis ku masih tertahan, dan suaraku bergetar hebat. “Vano sakit kanker otak, stadium akhir nak.. sekarang dia masuk ICU dirumah sakit Pelabuhan”

Aku pergi mencari alamat rumah sakit yang diberikan tante Lidya, tubuhku gemetar, mendengar kabar dari mamanya Vano. Van, kenapa kamu gak pernah cerita? Kamu gak boleh ninggalin aku van.. air mataku membendung dan tak sanggup aku menahannya. Sesampainya aku dirumah sakit, aku sudah menemukan ruangan Vano, tapi aku tidak sanggup untuk melihatnya terbaring lemah diatas kasur. Kuberanikan diri membuka pintu ruangan ini, “Hai san..” disaat seperti ini dia masih bisa melihat kan senyumnya. “Van, aku sudah tahu semua! Kenapa kamu gak pernah cerita sih Van?” “Aku cuma takut kamu sedih San” dengan terbata-bata dan menahan sakit dikepalanya dia masih bisa tersenyum, tiba-tiba kondisi Vano down. “San, aku boleh minta sesuatu gak?” “Apa?” “Tolong peluk aku San” aku memeluknya erat-erat, lalu Vano membisikan sesuatu “Jaga diri kamu ya San, a-ku sa-yang ka-mu” alat detak jantung itu membentuk garis lurus dan Revano Geonino telah dipanggil yang Maha Kuasa. Aku menangis sekencang-kencangnya, menangis dipelukan vano. Mungkin kamu gak bakal ada lagi disini, tapi aku yakin kamu bakal jagain aku dimanapun. Terima kasih kamu sudah mengajari aku banyak hal, aku akan selalu ingat. Ruangan ini penuh dengan isak tangis, semua orang merasakan kehilangan REVANO GEONINO.

Minggu, 08 September 2013

8 september 2013

heloo, sudah lama nih gak jumpa blog ku tersayang. apa kabarnya? hem.. semoga para viewers baikbaik saja yah.. hehe
ohya aku jadi vakum gini kalo udah taken, aku udah jarang banget kaliya buka blog semenjak taken. tapi aku malah jones lagi.. fufu
setiap galaunya aku pasti ke blog, hehe . kamu paling setia menemaniku deh:* huahaha
ehya ini kali pertama aku taken tapi ttp nulis blog. hoho aku lagi taken nih sama apriansyah<3<3
hem baru jadian sih, tapi aku seneng bgt lah. aku janji deh gak akan lupain blog ku lagi. see you babay

Selasa, 13 Agustus 2013

selama 14 bulan

           mungkin, sekarang kamu menganggap dia tidak berarti lagi kamu menganggap dia tidak berguna lagi.. dia adalah.. sosok wanita yang selama 14bulan bersamamu, selalu berusaha penuhi semua keinginanmu, selalu berusaha membuatmu tersenyum saat dia tau kamu sedang terpuruk, selalu sabar menghadapi egomu. dan kini dia telah pergi dari kehidupanmu, meninggalkan sejuta lembar kenangan lalu yang telah dia lewati bersamamu . bayangkan, wanita yang pernah berada di sisimu, yang selalu menemani hariharimu, selalu ada disampingmu, kini dia pergi dengan harapan kamu kembali dan sadar bahwa dia lah wanita yang selalu ada untukmu . tapi semua sudah terlambat, kamu membiarkan dia pergi dengan harapan kosong.. dia masih peduli dengan keadaanmu walaupun sering kali tersakiti hatinya oleh sikapmu yang acuh tak menganggap dia ada . satu hal yang pasti kamu sesali dan pasti membayangimu suatu hari nanti "mengapa kamu begitu kejam, membiarkan seseorang yang tulus mencintaimu pergi begitu saja dengan harapan kosong?" 

jangan pernah menyianyiakan orang yang tulus menyayangimu pergi meninggalkanmu selama lamanya . 
This is real, she just wants you to appreciate the struggle rather than hurt

lembar kenangan lalu

kriiingg.. suara alaram itu membangunkanku, dan sampai sekarang aku masih menyimpan benda yang pernah diberikan mantan kekasih aku waktu itu. yaaa.. aku masih ngarepin dia balik lagi ke aku, ahh sudahlah..
aku bergegas menuju kamar mandi "astaga bil, lo punya janji sama anak-anak" aku mengerutu .
  setelah selesai, aku melihat bingkai disekeliling kamarku. betapa indah masa-masa itu, masa-masa aku dan kamu adalah kita, dan aku masih mengingat itu semua .
skip.
"lama banget sih lo bil" gerutu si cewek berambut keriting. "kelamaan di dandan sih lo" jawab si tomboy . "apaan sih lo berdua, gue kan cewe tulen jadi wajar dong kalo gue dandan, dandan nya juga gak norak-norak menor gitu" jawabku sambil rebut makanan di tangan si tomboy . eh aku belom kenalin temen-temen aku, yang rambut keriting namanya lia, yang tomboy icha, fifi . ada lagi nih si cowo pembalap. dafa, ferora, rakha, dan boby
    "oke hari ini kita mau kemana?" tanya ku pernasaran. "kita mau kerumah vinaaaa" vina, salah satu temen kita juga tapi aku gak terlalu deket sama vina soalnya dia jarang ngumpul sama kita-kita . di jalanan si lia di bonceng sama ferora, icha sama rakha, fifi sama boby.. daaaaann aku sama dafa! yatuhan, kenapa aku harus dibonceng dafa? dag dig dug .
"lo masuk SMA mana bil?" dafa memulai pembicaraan memecahkan keheningan beberapa menit lalu "apa? gue gak kedengeran" knalpot kendaraan dafa emang berisik jadi bikin garing obrolan kami berdua . "lo masuk SMA mana soplak?!" tanyanya kesal "gue? masuk sma.. ecie lo kepo ya haha" aku ngedelek . dafa kesal dengan jawaban ku, dia makin tarik gas dan kebut kebutan . itu bikin aku spontan meluk dia . "ecie daf, apa rasanya tuh dipeluk bila" canda icha "apaan sih, ini juga garagara dafa yang kebut kebutan" "salah lo juga yang ngeselin gue, pake bilang gue kepo lagi" "gue cuma bercanda soplak!" *plak* kepala dafa aku tempeleng . "aw gila lo ya bil, nanti kalo jatoh gimana! bener-bener lo" debat dijalan, ngeselin terus jadi aku diemin aja dafanya .
  "hey unyil udah nyampe" "iya gue tau" aku turun dari motor dafa, sambil ngomel ngomelin dia didpn temen-temen, "ecie nanti lo cinta sama dafa" kata fifi sambil nenggol tangan ku "enggak! gue gak mau pacaran.. cukup ya gue dimainin cowo ter..." "sshh.. semua cowo gak gitu bil" potong dafa. "maksudnya apatuh? ecie dafa kode, kode ganas tuh bil" ledek lia, tapi aku gak mengubris omongan mereka, aku langsung masuk aja kerumah vina salam salaman sama orang tuanya, sama vina .
  aku duduk manis disofa sambil twitting di handphone kesayanganku. "semua cowok gak gitu bil" kata-kata dafa terngiang di pikiran ku, maksudnya apa? apakah ini tanda Tuhan untuk membiarkanku mencintai orang lain dan meninggalkan kenangan lalu ku? entahla aku tidak mengerti semua itu .
"bil foto yok di ipod vina" dafa mengagetkan aku "ha? iyaiya yokk.."
  aku masih gak ngerti, tapi.. dafa itu mantan kekasih dila, sahabat ku sendiri . walaupun sekarang aku punya sedikit koflik dengannya sehingga itu membuat kami jarang berkomunikasi, tapi aku masih mencintai dedy.. mantan kekasihku yang sekarang udah punya gebetan baru . ah sudahla bil lupakan, masalalu mu buruk .
skip
seharian jalan jalan bareng temen temen dan paling spesial, jalan bareng dafa . astaga aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya, apakah aku benarbenar suka sama dafa?
  aku berjalan mengambil handphone ku di atas meja belajar, kulihat bingkai-bingkai itu lagi, seolah-olah tenggorokan ku tercekat dan hingga mataku mengeluarkan mutiaranya. aku masih mencintaimu dedy, bagaimana bisa aku melupakan kenangan kita secepat itu? baru sebulan kita mengakhiri hubungan termanis itu, sekarang kamu dengan mudahnya melupakanku dengan wanita baru mu itu? . brengsek! lagilagi aku memikirkan hal bodoh yang seharusnya tidak aku pikirkan.
  "bilaaaaa" tok tok tok . aku tidak menggubris suara mama yang membangunkanku, tetap saja aku masih tertidur . "bil bangun woy udah pagi, wah cewek masa jam segini belom bangun" itu.. dafa? aku langsung cepat-cepat beranjak dari kasurku, belum sempat melihat kaca aku bergegas menuju pintu . "ngapain lo kesini?" tanya aku "gue mau jemput lo lah, bukannya kita mau ngumpul dirumah fifi? emang lo gak ikut?" jawabnya dan menatap mataku hingga aku sendiri yang salting "eh, emm lo kenapa..." belum selesai ngomong, dafa motong "lo semalem abis nangis ya? mata lo sembeb banget." kata dafa sambil memperhatikan isi ruangan kamarku yang penuh bingkai foto masalalu ku . "ternyata lo masih nyimpen fotofoto lo sama dedy ya, lo masih cinta?" satu pertanyaan membuatku sesak nafas, aku tidak tau harus menjawab apa, satu sisi aku masih menginginkan dedy kembali, tapi disisi lain aku masih belum mengerti perasaanku terhadap dafa . "banyak tanya lo, udah tunggu aja di ruang tamu.. gue mau mandi" "he'eh, buruan!jangan lelet, gue tinggal lo" "iyaa bawel" aku jawab teriak dari dalam kamar, sungguh aku masih penasaran sama perasaan ini . cepat-cepat aku menurunkan bingkai bingkai itu dan menyimpannya di dalam lemari bajuku, "kamu harus move on bil! jangan lemah jadi cewe, masih ada dafa" ha dafa? aku sendiri bingung kenapa aku dengan lancarnya mengatakan itu:|
  "maa.. paa bila pergi duluya, bila ngumpul dirumah fifi" sambil salaman sama mama papa . "jagain anak tante ya daf.." maksudnya apa ini maa?-_- "iya  tante, pasti dijagain kok. tenang aja kalo sama dafa" "hehehe" aku nyengir seadanya . aku memutuskan untuk lebih dulu jalan dan meninggalkan obrolan mama papa dan dafa, itu membuatku lapar . "eh kita cari makan dulu yok, gue laper." "okey"
dijalan aku cuma diem sambil twittingan sampe tangan keriting haha lol. tibatiba dafa nurunin aku di bubur ayam kangdidin, hm.. dafa tau aja aku lagi kepengen buburayam. "turun bil, kita makan sini aja yok" "he'eh" jawab aku acuh, seolah aku tidak senang berada di sini .
  "kalian lama banget sih" lia ngomel sambil terus berfoto di ipod vina . alahh, narsis banget sih lo kataku dalam hati . "bila paling ngegeret telatnya kalo ngumpul" lanjut boby. "apaansih, gue tadi laper trs diajak dafa makan bubur ayam, ya gue ikut aja" jawabku sambil ambil alih tempat duduk boby . "udah udah, gakusa diributin, kasian juga kan kalo bila nya gak diajak sarapan, nanti dia pingsan dijalan lagi" lanjut dafa bijak .
dirumah fifilah kami sering ngumpul, ada si vina yang pacaran sama gilang, ada si narsis lia yang pacaran sama roni, si icha sama rakha . dan si single dafa, aku, dan boby . disini aku gak ngenes ngenes banget sih, masih ada dafa yang ngajakin aku ngobrol. "jam 3 lama bgt yaa" "tau lo, gak sabar mau nonton conjuring" "haha, nanti kalo udah nonton jangan teriak-teriak histeris ya sama hantunya, eh bil nanti lo sebelah gue aja ya" bujuk dafa "eh gue gak takut hantu kalee, rese lo.. iya kalo lo kebagian tempat duduk" ejekan demi ejekan diantara kami berdua, disitulah mulainya aku ngerasa kalo aku suka sama dafa .
skip
  "heii.. kalian mau pergi juga kan? gue sama ari ikut yaaa" tibatiba nadel dateng terus agak kaget juga ngeliat dsini ada dafa. "eh ini dia nadel baru dateng, yodah ikut kita aja yok bareng2" kata roni seolah mengacaukan perasaan ku hari ini, dan disini dafa mulai menjauh dari aku . aku tau kehadiran nadel membuat dafa jadi susah bernafas, posisinya sama seperti aku . masih mencintai mantan dan lagi pdkt sama gebetan, aku juga tau kalo nadel masih cinta dafa, ya jadi aku ngejauh untuk saat ini. aku tidak mau jadi penghalang bagi dua orang yang saling mencintai . lalu bagaimana dengan ari? bukankah nadel pacaran sama ari? atau ari cuma pelampiasan nadel?
  "eh daf, gue sama boby aja ya.. biar fifi aja yang sama kamu" kataku seolah mengerti yang dipikirkan dafa "ehh.. he'eh bil, gapapa kan?" "iyah gapapa" dan ternyata bener dugaan aku, dafa, masih ngarep nadel balik lagi . tapi kenapa dulu waktu nadel single, dafa enggak ngajakin nadel balikan? "bel kita makan aja dulu yok, nntnnya masih lama.. jam setengah 7" kata vina yang mengagetkan ku dan membuyarkan pikiranku . "ha iyaya.." karena dafa ngejauh dari aku, aku juga ngejauhin dafa.. dan aku liat kebelakang dafa berada didekat nadel . aku biasa biasa aja sih, tapi kok aku kesel sama tingkah dafa yang jadiin aku pelarian disaat nadel tidak ada. sudah bil, kamu gak pantes buat dafa :)

    "eh lia, rony.. nanti gue duduk dideket lo berdua ya" bujuk aku sambil memohon ke lia "bukannya mau duduk deket dafa.. haha" ejek lia "haha iya lo, sono gih deketin dafa. jangan ganggu kita" usir rony sambil tawa . "elah gue sebel sama dafa, dia jadiin gue pelarian pas lagi gak ada nadel, sekarang ada nadel dia ngejauh dari gue" aku curhat sambil pukulpukul tangan rony, sebel.  "jadi lo marah bil kalo gue ngejauhin lo karena ada nadel?" suara itu membuat aku berhenti ngomong . "ha, em.. enggak kok daf.. biasa aja kali, udah kesana gih, ganggu aja" aku jawab gugup, tercekaat. jadi dafa dengerin curhatan aku tadi? astaga bodoh banget sihhhh.. "shh, di kamar lo penuh foto dedy gue gak marah kan?" kata dafa sambil liat mata aku. dag dug dag dug. astaga kenapa aku jad gugup gini . "hem, udahla gak perlu dibahas . gak penting juga, eh udah yok udah jam setengah 7 nih nanti telat nonton conjuringnya" aku berdiri dan bersikap acuh dengan dafa dan meninggalkan dafa yang masih duduk di resto ayam penyet . aku jalan duluan ke XXI dan mencari teater 1 . "bob, lo duduk sebelah kiri gue yaa" kataku mencoba bujuk boby untuk duduk di sampingku . "enggak ah, kan ada dafa" "dafa ada nadel, udahla gakusa ribet, sini lo duduk sebelah gue" kataku sambil tarik tangan boby dan menyuruhnya duduk di sebelahku . dan ku lihat dafa berjalan dan mencari tempat duduk H1-9 sudah dilihatnya ada roni,lia,aku,boby,icha,rakha....kosong, dia langsung duduk di samping rakha di tempat yang kosong sebelum dia duduk dia mengarah ke aku dan melihat boby berada disamping ku.. kulihat ada rasa cemburu dari matanya, tapi aku tidak memikirkan itu . yang aku pikirkan dua tempat yang masih kosong itu di isi nadel dan ari, perasaan ku semakin kacau dan aku semakin menyadari perasaanku terhadap dafa .

 "bil lo pulang bareng gue, tadi lo pergi gue jemput jadi pulang harus bareng gue" kata dafa kesal setelah tadi melihat aku duduk disamping boby . "biar gue dianter boby aja deh" jawabku seadanya "lo kenapa sih bil? masih kesel gue ngejauhin lo didpn nadel?" kata dafa sambil ngeliat ke mata gue yang sempet melengos ke jalanann "gue kesel lo jadiin gue pelarian disaat gak ada nadel! disaat ada nadel lo ngejauhin gue. maksud lo apaan? lo anggep gue persinggahan? yang dateng seenak lo aja, gue punya perasaan daf.. gimana gue gak cemburu ngeliat lo ngedeketin nadel" aku kelepasan.. astaga malu . "jadi lo punya perasaan ke gue bil? gimana perasaan lo ke dedy?" tanya dafa penasaran, karena udah terlanjur basah ya basahin aja sekalian . "gue coba ngelupain dedy, disaat ada lo. gue udah bisa ngelupain dedy sedikitsedikit. tapi gue gakmau jadi penghalang diantara 2 orang yang masih saling cinta" ... "gue tau nadel masih cinta sama lo daf, gue ngerti perasaan kalian.. mending lo jauhin gue sekarang" sambung aku dengan suara pecah dan mata berlinang . "biar gue pulang naik taksi aja.." dafa tarik tangan aku dan nyoba ngehalangin aku pulang naik taksi "bil ini udah malem, nanti apa kata mama lo kalo gue ngebiarin cewe yg gue sayang pulang naik taksi" "shut up daf, jangan ngerayu gue pake katakata itu! gak usa bohongin perasaan lo sendiri daf, lo masih cinta kan sama nadel?" dan akhirnya keluarlah mutiara itu dari mataku.. aku nangis didepan dafa, ah shit .
"iya gue cinta sama nadel.." aku makin nangis "tapi itu dulu! sebelum ada lo yang ngisi harihari gue" sambung dafa . "sekarang gue cinta sama lo bil, kemarin gue gak yakin lo cinta sama gue . lo aja masih nyimpen foto foto lo bareng dedy.. gue cinta sama lo bil, lo mau kan jadi pacar gue?" sambungnya lagi sambil memegang tanganku "tapi nadel..." "shh.. nadel udah ada ari" "tapi nadel masih cinta sama lo" "kalo dia masih cinta sama gue, kenapa dia jadian sama cowo lain? sudahla gue gakperlu nadel, yang gue butuhin jawaban dari nabila" "eh.. gue, juga cinta sama lo daf.." dafa meluk gue erat...

                                                                THE END

*bahagia itu sederhana, bahagia dicintai oleh orang yang kita cintai .